LANGKAH KECILKU
BERGERAK MENUJU TRANSFORMASI PENDIDIKAN
(Antologi Seorang
Pengajar Praktik Angkatan-3)
Perkenalkan saya
adalah seorang Pengajar Praktik guru Penggerak Angkatan ke-3, saya adalah guru
mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Banjarangkan, tempat kedua setelah saya
bertugas selama 22 tahun di SMP Negeri 3 Banjarangkan. Selama saya bertugas di
SMP Negeri 3 Banjarangkan saya dipercayakan sebagai kepala laboratorium sekolah
dan enam tahun menjadi seorang operator dapodik. Selain tugas formal profesi
sebagai, saya juga seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang juga
memiliki tugas-tugas rutin rumah tangga dan aktivitas sosial budaya.
Setelah 23 tahun melaksanakan profesi sebagai
seorang guru dan pendidik dengan rutinitas tatap muka, perubahan yang saya
alami ketika mulai masa pandemi Covid-19 mulai berdampak pada bulan Pebruari
2020 yang lalu. Protokol kesehatan menggunakan masker dan jaga jarak membuat siswa
harus secara belajar dari rumah secara daring. Posisi mengajar yang
biasannya di depan kelas menjadi berada di depan laptop atau ponsel. Setiap
pagi yang selalu bertemu dengan siswa di kelas, kini hanya melihat keaktifan siswa
di whatsapp group atau google classroom saja. Jika dulu biasanya
melarang siswa mengaktifkan ponsel di kelas, kini menegurnya jika tidak
aktifkan ponsel. Sungguh sesuatu yang rasanya terbalik.
Ibaratkan menanam
pohon padi, juga turut tumbuh gulma pohon gonda yang enak buat disayur. Situasi
dimasa pandemi juga menumbuhkan kebiasaan baru untuk mulai melihat-lihat
berbagai jenis workshop secara daring, dan juga sering-sering
membuka aplikasi SIM PKB. Disinilah awalnya informasi segala bentuk pelatihan
yang mendukung seperti pendidikan inklusif, adaptasi teknologi, termasuk
informasi guru penggerak, dan pengajar praktik angkatan ketiga.
Merasa ada
kecocokan hati dengan konsep Merdeka Belajar program Guru Penggerak dari Mas
Menteri Nadiem Makarin. Juga setelah menyaksikan beberapa video pengajar praktek dengan segala
permasalahannya, juga sedikitnya pengalaman yang saya miliki, awalnya begitu
pesimis untuk mengikutinya program Pengajar Praktik Guru Penggerak Angkatan
ke-3, yang proses administrasinya saya mulai laksanakan sekitar bulan Pebruari
2021 yang dilanjutkan dengan tes simulasi mengajar dan tes wawancara bulan
April 2021.
Tangatangan pertama
yang saya rasakan pada waktu mengikuti tes simulasi mengajar yang bertepatan dengan hari
Penampahan Galungan, dimana kesibukan ibu-ibu umat Hindu di Bali umumnya
mencapai puncaknya, mempersiapkan segala sarana upacara hari raya Galungan.
Tapi dengan segala keterbatasan, menciptakan ruang kelas sederhana dengan
materi kompetensi Zat Aditif pada makanan Kemasan, menggunakan kertas gambar
sebagai papan tulis, beberapa produk kemasan yang ada di meja guru, dan
bagaimana tim penilai melihat dan menilai saya secara online. Saya
mendapat jadwal tes wawancara yang juga tepat dihari raya Kuningan, yang bagi
kami umat Hindu di Bali merupakan hari raya besar setiap tujuh bulan, yang
jaraknya sepuluh hari dari hari raya Galungan. Tes wawancara juga dilakukan
oleh dua orang assesor, yang juga tidak boleh menyebutkan namanya, banyak
menanyakan hal-hal yang ditulis dalam tes essai yang saya buat dalam melengkapi
administrasi di SIM PKB.
Ada
dua hal penting yang banyak ditanyakan yaitu pembelajaran yang menyenangkan,
sebagaimana yang saya alami ketika masih bertugas di SMPN 3 Banjarangkan, dan
tugas saya sebagai relawan IT dan relawan pengungsi meletusnya Gunung Agung. Pembelajaran
yang menyenang kan selama ini saya lakukan dengan sering mengajak siswa
jalan-jalan di seputar sekolah untuk mengamati tumbuh-tumbuhan, hewan, yang
kebetulan juga lingkungan sekolah masih kental dengan suasana pertanian. Berbagai
aktivitas sosial budaya keagamaan juga merupakan referensi berbagai hukum-hukum
sains yang ada di buku pelajaran sebagai contoh nyata yang lebih mudah dicoba
dan diterapkan sehari-hari, tanpa harus menggunakan peralatan laboratotium.
Membiasakan menggunakan alam semesta, lingkungan, sosial budaya, dan berbagai
kearifan lokal sebagai sumber belajar yang menyenangkan, juga menguatkan sisi
karakter Pancasila yang juga Bhineka Tunggal Ika. Menumbuhkan jiwa seorang
pemimpin dalam belajar kelompok, dan memberikan peluang berbagi sebagai tutor
teman sebaya juga saya lakukan untuk menumbuhkan karakter percaya diri mereka.
Sebagai guru yang
selama ini memahami konsep Ki Hajar Dewantara, ing arso sung tulodo, Ing
madyo mangun karso, dan tutwuri handayani, saya merasakan bahwa sebenarnya
keanekaragamn mereka adalah cikal bakal
taman indah masyarakat nyata mereka nantinya. Ibaratkan bunga yang
berwarna warni, berbagai dedaunan yang indah, atau beraneka buah yang manis,
atau buah yang pahit, yang semuanya berdaya guna. Kewajiban kita untuk
menumbuhkan minat mengembang kan kompetensi
diri dan karakter anak didik kita dengan baik, sehingga mereka menjadi
pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab didalam masyarakatnya nanti.
Sesuai
dengan konsep MERRDEKA yang saya laksanakan pada saat pelatihan pengajar
praktik di LMS, maka konsep Mulai Dari Diri, adalah langkah awal yang penting
untuk menjadikan guru sebagai pemimpin pembelajaran. Apakah selama ini kita
belum merdeka belajar? Tentunya pertanyaan ini akan merupakan hal pasti
ditanyakan oleh siapapun juga, baik siswa, guru, pendidik, dan masyarakat luas.
Mengingat pembelajaran selama ini sudah dianggap berlangsung dengan kurikulum
2013 yang sudah bersifat nasional. Paradigma baru dalam konsep Merdeka Belajar,
melalui perubahan pelaksanana Ujian
Nasional menjadi Asesmen Kompetensi Minimum, serta Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang menjadi satu lembar merupakan dua bagian konsep yang
memerdekakan.
Bagi saya, murid
saya adalah guru dan sumber belajar saya juga. Dari mereka kita banyak belajar
tentang kekurangan diri sebagai seorang guru, sumber evaluasi dan refleksi diri
untuk menyempurnakan perencanaan, proses belajar, dan juga penilaian hasil
belajarnya yang memang mesti disesuaikan
dengan keberagaman mereka. Bagi saya keanekaragaman serta kekurangan yang ada
bukanlah penghambat untuk maju, tetapi merupakan langkah kecil yang membawa
kita dari jalan setapak menuju tempat yang semakin semakin tinggi, untuk
mencapai tujuan sejati dari pendidikan itu sendiri melalui proses transformasi
pendidikan.
Merasa bersyukur
setelah melewati tantangan kedua setelah dapat menyelesaikan semua tugas di LMS
baik secara synchronus maupaun ansynchronous selama 10 hari pada
awal bulan Juni 2021. Mengahabiskan waktu sepanjang hari hingga tengah malam,
waktu akhir mengumpulkan tugas-tugas di LMS. Ada kebanggan tersendiri ketika
semua tugas tugas-tugas yang kejar waktu dapat dikerjakan tepat waktu.
Selesai kegiatan
CPP di LMS lanjut persiapan menuju pertemuan secara luring di Claro Hotel Makassar
selama lima hari. Tentulah merupakan hadiah yang luar biasa dimasa pandemi,
dapat jalan-jalan, menikmati suasana keindahan hotel dan kota Makassar. Tentunya
yang paling berkesan dapat bertemu langsung dengan para CPP se Indonesia, dan
fasilitator yang selama ini hanya kita lihat lewat Gmeet saja. Saya
merasa senang dan penuh semangat, jika selama ini kita hanya melihat
wajah-wajah teman Pengajar praktek di layar saja, kini dapat berjumpa ber-elaborasi,
diskusi, bertemu fasilitator, dan tak lupa foto bersama, meskipun dengan
kondisi protokol kesehatan yang masih ketat.

Mulai awal bulan
Agustus 2021, surat tugas kami terima sebagai Pengajar Praktik untuk kami di
Klungkung, dengan pembagian 1 PP : 3 CGP. Mengingat masih zona merah kondisi
pandemi covid-19, kegiatan Lokakarya-0 dilaksanakan secara daring. Tiga orang CGP
dari SMAN 1 Banjarangkan dan SMPN 1 Banjarangakan yang saya dampingi, merupakan
sosok guru yang cerdas, kreatif, penuh semangat, terutama mengerjakan
tugas-tugasnya di LMS yang tuntas sesuai dengan waktu yang disediakan. Hampir
tidak ada kendala yang berarti dalam pendampingan individu maupun lokakarya.
Tugas pendampingan
dengan mengunjungi ke sekolah, saya selalu merekam aktivitas pendampingan
tersebut sebagai bagian nyata dari laporan saya di LMS. Kami mendiskusikan
banyak hal sesuai dengan petunjuk dan acuan pendampingan. Mulai dari
pembelajaran IPA yang berdiferensiasi dengan berbagai media, dan dibentuknya
komunitas praktisi “Sami Sareng” yang melibatkan hampir semua komponen di
sekolah, orang tua, dan alumni. Demikian juga dalam pembelajaran seni budaya,
dimana siswa diberi ruang untuk membentuk tarian bebas berdasarkan hoby
masing-masing, sehingga tercipta gerak tari dengan gaya bela diri, dan kreasi
bebas lainnya. Terbentuknya komunitas praktisi “Kompak Gisi” yaitu Komunitas
Praktisi Gali Potensi, menjadi satu wadah nyata siswa dan guru dalam
mengembangkan potensi siswa masing-masing mata pelajaran. Melaksanakan praktek
coaching bersama rekan sejawat, yang intinya semua komponen yang ada di sekolah
memberikan dukungan yang positip atas kegiatan pendampingan yang saya lakukan.

Melalui lokakarya
dimana kami para Pengajar praktik selalu berkolaborasi dengan teman yang
berbeda, memberi bekal untuk di sekolah masing-masing. Sesuai dengan konsep
MERRDEKA, maka mengenal kompetensi diri Calon Guru Penggerak dengan merefleksi
kelebihan dan kekurangannya, membentuk komunitas praktisi, mulai dari membuat
visi misi sekolah yang berpihak kepada murid, pembelajaran yang
berdiferensiasi, guru sebagai pemimpin pembelajaran, dan pengelolaan program
pengembangan sekolah. Menunggu tiga lokakarya lagi untuk melahirkan seorang
Guru Penggerak.

Seorang Calon Guru Penggerak bagi saya bukan
hanya teman kolaborasi, tapi bagi saya juga menjadi seorang guru. Saya banyak
belajar dari kreativitas dan inovasinya sebagai pemimpin pembelajaran. Mampu
mengelola sumber daya yang ada, dan memberi ruang dalam pembelajaran yang
berdiferen siasi, serta kolaborasi antara semua komponen yang ada di sekolah
dengan orang tua siswa. Inovasinya sebagai pemimpin pembelajaran dan mencapai
tujuan transformasi pendidikan benar-benar ditunjukkan dengan aksi nyata di
sekolah masing-masing.
Guru Penggerak adalah ujung tombak reformasi pendidikan Indonesia. Aksi nyata Calon
Guru Penggerak juga adalah semangat bagi saya, meskipun saya hanya mampu
mengantarkannya dengan langkah-langkah yang kecil. Namun tetap ingin menjadi
bagian yang mengantar mereka menuju keindahan transformasi pendidikan Indonesia
dalam masyarakat madani yang berkarakter Pancasila.